Hubungan Islam dan Sains tidak lepas dari kemajuan dan kemunduran sains
dalam peradaban Islam. Umat Islam mulai mempelajari atau melakukan
penafsiran ilmiah sejak generasi pertama sampai abad ke-lima hijriyah
hingga menjadikan diri mereka sebagai pelopor Ilmu pengetahuan di
seluruh penjuru dunia, umat Islam telah menjadi pelopor dalam research
tentang alam, sekaligus sebagai masyarakat pertama dalam sejarah ilmu
pengetahuan yang melakukan experimental science atau ilmu thabi’i
berdasarkan percobaan yang kemudian berkembang menjadi applied science
atau technology.
Islam mendorong ummatnya untuk selalu berupaya mengembangkan sains seperti tercantum dalam QS Al-'Alaq: 1-5 :

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang
Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena, mengajar manusia apa
yang tidak diketahuinya.”
Iqra' terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak. Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Quran menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra' berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra' mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.
Q.S. Ali-Imran: 190-191 :
Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau
duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah
Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah
kami dari siksa neraka.”
Salah satu cara mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan
membaca dan merenungkan ayat-ayat-Nya yang terbentang di alam semesta.
Dalam ayat ini, Allah menyuruh manusia untuk merenungkan alam, langit
dan bumi. Langit yang melindungi dan bumi yang terhampar tempat manusia
hidup. Juga memperhatikan pergantian siang dan malam. Semuanya itu penuh
dengan ayat-ayat, tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Kemudian islam juga menempatkan orang yang beriman, berilmu dan beramal
shalih pada derajat yang tinggi, seperti dalam Q.S. Al-Mujadilah: 11 :
Artinya : "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman
diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Kedudukan orang-orang beriman jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
orang-orang kafir meski mereka memiliki kelebihan yang bersifat
keduniaan dari orang-orang beriman. Namun derajat orang-orang beriman
yang berilmu akan menempati posisi yang lebih baik lagi ketimbang orang
yang hanya beriman saja. Hal tersebut dikarenakan hanya dengan sarana
ilmu lah, seseorang dapat mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil.
Pandangan Al-Qur’an terhadap Sains :
- Seluruh pengetahuan, termasuk pengetahuan kealaman (sains) ada dalam al-Qur’an. Pendapat ini didukung antara lain oleh al-Ghazali, al-Suyuti, dan Maurice Bucaile.
- Al-Qur’an hanya sebagai petunjuk untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Pendapat ini didukung antara lain oleh Ibnu Sina, al-Biruni, dan al-Haitam.
Faktor-faktor pendorong kemajuan sains dalam peradaban islam adalah :
1. Universalisme
Tolong-menolong secara universal memang telah menjadi satu bagian yang
tidak dapat di hilangkan dari ajaran Islam. Islam mewajibkan umatnya
untuk saling menolong satu dengan yang lain. Segala bentuk perbedaan
yang mewarnai kehidupan manusia merupakan salah satu isyarat kepada umat
manusia agar saling membantu satu sama lain sesuai dengan ketetapan
Islam.
Saling membantu dalam kesusahan demi tercapainya tujuan hidup bersama
merupakan hal yang sangat mulia, hal tersebut merupakan karakter
daripada islam itu sendiri, menjadikan Ikatan Kebersamaan Umat Islam
kemudian menjadikannya sebagai batu lompatan demi tercapanya tujuan
hidup bersama.
2. Toleransi
Sesungguhnya sikap toleransi dalam Islam sangat nampak pada setiap
perintah dan larangannya. Bahkan sampai kedetailnya, maka seharusnyalah
sikap ini menjadi kebangkitan baru untuk mengubah suatu bangsa menjadi
bangsa yang bisa saling bertoleransi apalagi dalam hal ilmu. Berbagi
ilmu itu tidaklah sulit, tidak akan rugi, malah akan mendapatkan wawasan
baru dan juga teman-teman tentunya yang akan sangat berterimakasih
karna telah diajarkan. Dengan saling bertoleransi tentu tidak akan
teriolasi dari orang-orang karna kita mau berbagi apa yang kita punya
untuk membantu mereka, tidakkah itu baik,..??? Dan mungkin ada dari
setiap orang yang diajarkan akan membalas kebaikan yang telah kita
diberikan.
3. Karakter Pasar Internasional
Sejarah mencatat bahwa kaum pedagang memegang peranan penting dalam
persebaran agama dan kebudayaan Islam. Letak suatu negara yang strategis
menyebabkan timbulnya bandarbandar perdagangan yang turut membantu
mempercepat persebaran tersebut. Di samping itu, cara lain yang turut
berperan ialah melalui dakwah yang dilakukan para mubaligh. Rihlah
ilmiyah (perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan) sudah banyak
dijadikan metode dalam pembelajaran di setiap institusi pendidikan hal
ini tentu akan menjadikan sains dan teknologi di dunia Islam menjadi
maju.
4. Perhargaan Terhadap Sains dan Saintis
Memberikan penghargaan kepada sains maupun saintis menjadikan mereka
tahu bahwa mereka dibutuhkan dalam perkembangan dunia yang semakin maju
ini, membuat mereka menjadi semakin semangat untuk menemukan hal baru
lagi. Seperti Khalifah Al-Makmun membangun Baitul Hikmah di Baghdad,
beliau mengirim wakil-wakilnya ke segala penjuru daerah untuk mencari
naskah-naskah tentang materi pendidikan dan Sains, motif dasarnya adalah
kepentingan orang lain (altruistic) dan bukan materialistic. Tentu
saja, kemungkinan adanya balasan materi dalam bentuk teknologi maju atau
baru sebenarnya tidak ada karena hubungan Sains kuno dengan teknologi
kuno jauh terpisah, tidak seperti sekarang. Hingga melahirkan para
Saintis Muslim terkemuka dibidang Alkimia, Astronomi, Matematika dan
kedokteran.
5. Keterpaduan Antara Tujuan dan Cara
Sangatlah penting dapat membedakan antara tujuan dan cara. Seperti
contoh jikalau kita punya tujuan yang jelas mengapa kita sekolah,
tentunya kita tidak akan nyontek, karena dengan cara tersebut kita tidak
akan mendapatkan pelajaran yang berguna bagi kehidupan kita kedepannya.
Jadi harus ada keterpaduan antara tujuan dan cara, apabila kita
memiliki tujuan yang benar tentu kita juga harus meraihnya dengan cara
yang benar juga. Sangatlah jelas bahwa tujuan akan membedakan cara kita
melakukan sesuatu, sehingga tujuan sangatlah penting didalam kehidupan.
Kalau kita tidak mempunyai tujuan yang jelas kehidupan kita juga akan
menjadi tidak jelas karena tidak ada arah yang jelas.
Ketika sains dan teknologi mengalami proses sekularisasi, dikosongkan
dari nilai-nilai ketuhanan, seperti sains Barat pada umumnya, maka
tujuan akhir dari sains itu ialah semata-mata manfaat (nafiyyah), baik
yang bersifat fisik – seperti kenikmatan, keindahan, dan kenyamanan –
maupun kepuasan intelektual dan kebanggaan. Sedangkan ukuran
manfaat itu bersifat relatif, dan sangat sulit dipenuhi secara hakiki.
Karena itu, perkembangan sains cenderung sangat liar. Seorang dokter
yang ahli rekayasa genetik, misalnya, mungkin belum merasa
memperoleh manfaat dan kepuasan sebelum berhasil melakukan clonning, dan
mendistorsi proses penciptaan manusia secara konvensional.
Sebaliknya, ketika nilai-nilai ketuhanan dimasukkan ke dalam proses
sains, di samping menghasilkan teori, baik dalam ilmu-ilmu eksaskta
maupun non-eksak (sosial, ekonomi, politik, ekonomi, dan
lain-lain) yang sesuai dengan sudut pandang dan pemahaman Islam
(hadhoroh Islam), juga akan menghasilkan produk yang bersifat materi
(kebendaan) dari proses eksperimen, yang sarat dengan nilai-nilai ruhiah
yang puncaknya bermuara pada tercapainya keridhoan Allah. Karena itu,
seorang ilmuan muslim akan mengintegrasikan antara penemuan ilmiah yang
bersifat materi dengan kesadaran ruhiah (majhu al- maddah bi ar-ruh).
Nilai ruhiah yang paling tinggi ialah ketika seseorang merasa dekat
dengan Allah dan merasa mendapat ridho Allah.
Kemunduran Sains
Konflik terjadi pada masa akhir kemunduran sains Islam yakni kemunculan
sains modern (Newton), konflik juga terjadi saat"Kitab Ihya Ulumuddin"
karya Imam Al-Ghazali. Siapa yang tidak mengenal kitab Ihya Ulumuddin?
Ya, kitab hasil karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali yang sering dijadikan
sebagai sandaran dan rujukan bagi sebagian ummat Islam terutama di
Indonesia. Imam Al-Ghazali sering sekali dianggap sebagai ahli filsafat
Islam dan ilmu kalam. Dan kitabnya yang berjudul Ihya Ulumuddin itu pun
dianggap sebagai ‘masterpiece’ Imam Al-Ghazali dalam hal ilmu kalam dan
filsafat. Ihya’ ulumiddin menyerukan umat Islam untuk kembali
menghidupkan ajaran agama, pendapat ini menyebabkan kesalahpahaman bahwa
adanya larangan untuk mempelajari sains, sehingga budaya mempelajari
sains ditinggalkan. Kesalahpahaman ini berdampak pada ketimpangan posisi
ilmu seperti terpisahnya tradisi filsafat kelompok (ilmu duniawi)
dengan tradisi pemikiran keagamaan (ilmu ukhrawi ). Dampak dari kesalah
pahaman agama dan sains menimbulkan ketimpangan posisi ilmu sehingga
terpisahnya tradisi filsafat dengan tradisi pemikiran keagamaan,
keduanya berada pada tempat yang berbeda, filsafat dan sains berada
dalam satu kelompok (ilmu duniawi) dan agama berada dalam kelompok lain
(ilmu ukhrawi).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar